Selasa, 21 Juli 2015

MEMBANGUN KEMITRAAN NELAYAN DAN PENGUSAHA PERIKANAN DALAM MENDUKUNG PROGRAM INDUSTRIALISASI PERIKANAN DI KAWASAN PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA (PPS) KENDARI

Oleh :
Budi Santoso

         
Dalam konsep industrialisasi perikanan, maka nelayan dan pengusaha perikanan khususnya yang tidak memiliki armada penangkapan ikan merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, nelayan sebagai suplier bahan baku dan perusahaan membutuhkan bahan baku untuk processing, dengan fakta tersebut maka dibutuhkan sebuah sinergitas yang dibangun dalam sebuah kerjasama dalam bentuk kemitraan sehingga pencapaian tujuan dalam rangka industrialisasi kelautan dan perikanan yang telah ditetapkan sebagai grand strategy Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam upaya mengakselerasikan pembangunan sektor kelautan dan perikanan dengan fokus nilai tambah, produktivitas dan daya saing komoditas serta usaha di bidang kelautan dan perikanan dapat tercapai, disamping itu dengan terlaksananya industrialiasasi perikanan maka banyak manfaat yang diperoleh disana, salah satunya penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kualitas produk hasil perikanan. Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari sebagai salah satu UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai Leading Sector pelaksanaan Industrialisasi Kelautan dan Perikanan tentu memegang peranan penting dalam upaya membangun kemitraan antara nelayan dan pengusaha perikanan, sehingga pelaksanaan industrialisasi perikanan khususnya di kawasan Sulawesi Tenggara dapat berjalan dengan baik.
Nelayan sebagai pelaku utama sektor perikanan tangkap memegang  peranan penting dalam mendukung program indutrialisasi perikanan terutama sebagai penyedia bahan baku bagi perusahaan ikan yang ada di kawasan pps kendari, khususnya bagi perusahaan – perusahaan yang tidak memilki armada kapal penangkapan ikan.  Oleh karena itu dibutuhkan sinergi yang kuat antara kedua belah pihak (nelayan dan pengusaha) untuk bersama – sama mewujudkan pencapaian program industrialisasi tersebut. 
Upaya membangun kemitraan nelayan – pengusaha khususnya dalam hal penyediaan bahan baku ikan di PPS Kendari telah berlangsung secara  alami  dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir  akan tetapi belum membuahkan hasil yang memuaskan. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya permasalahan - permasalahan yang djumpai.  Diantaranya semakin banyaknya kompetitor (pembeli ikan) yang datang dari luar kawasan sehingga kebutuhan pasokan ikan perusahaan dari nelayan sedikit berkurang karena nelayan memiliki pilihan penjualan yang lebih banyak.
Dengan adanya pola kemitraan yang baik antara nelayan dan pengusaha perikanan diharapkan program Kementerian Kelautan dan Perikanan  dalam mendukung industrialisasi perikanan dapat berjalan dengan baik.
Bagaimana membangun kemitraan nelayan dan pengusaha perikanan agar terjadi sinergitas yang baik antara kedua belah pihak sehingga dapat  mendukung program industrialisasi perikanan khususnya di PPS Kendari ?
Pengertian kemitraan secara konseptual adalah adanya kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai oleh pembinaan dan pengembangan berkelanjutan oleh usaha menengah atau besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, memperkuat dan menguntungkan (Soemardjo, 2004). Menurut Martodireso dan Widada(2002), saling memerlukan berarti bahwa pengusaha memerlukan pasokan bahan baku dan pemasaran sarana produksi peternakan memerlukan adanya bimbingan dan penampungan hasil. Saling memperkuat berarti peternak dan pengusaha sama-sama melaksanakan etika bisnis, sama-sama mempunyai hak dan kewajiban masing-masing dan saling membutuhkan sehingga memperkuat kesinambungan dalam bermitra. Saling menguntungkan berarti peternak ataupun pengusaha memperoleh peningkatan pendapatan disamping adanya kesinambungan dalam usaha.
Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia Sharif C Sutardjo (dikutip dari nasional.republika.co.id, Oktober 2014), dua persoalan utama di sektor hilir yakni kendala kekurangan dan tidak meratanya ketersediaan bahan baku untuk peningkatan produksi ikan olahan serta kemampuan untuk mengembangkan diversifikasi produk. Sedangkan di bagian hulu, perikanan masih mempunyai permasalahan dalam peningkatan kinerja produksi bahan baku dan ikan segar. Oleh karena itu, kata dia, diperlukan sistem manajemen rantai pasokan ikan dan produk perikanan, bahan, dan alat produksi. Kemudian berbagai informasi, mulai dari pengadaan, penyimpanan, sampai dengan distribusi. Sistem manajemen rantai pasokan ikan yang dimaksud pihaknya adalah sistem yang mampu menjamin ketersediaan ikan secara kontinyu. Baik pada musin panen maupun paceklik, kepada konsumen maupun bahan baku industri pengolahan. 
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, upaya membangun kemitraan nelayan dan pengusaha perikanan di PPS Kendari sebenarnya telah berlangsung cukup lama  dengan telah berkembang pola kemitraan usaha perikanan yang menerapkan dua pola bentuk kemitraan yaitu keagenan dan dagang umum. Pola keagenan maupun pola dagang umum diterapkan oleh masing-masing pihak antara lain dalam hal penyediaan pasokan bahan baku oleh kelompok mitra untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh perusahaan mitra. Anggota yang terlibat pada pola dagang umum ini bermitra tanpa batasan waktu karena tidak adanya surat perjanjian sebagai legalitas. Artinya setiap kelompok nelayan dapat kembali bermitra dengan perusahaan mitra kapan saja selagi masih dapat memenuhi pasokan kebutuhan perusahaan mitranya, akan tetapi pola kemitraan yang dikembangkan saat ini masih menemui berbagai hambatan diantaranya masih kurangnya tingkat kepercayaan antara nelayan dan pengusaha akan hubungan kerjasama kemitraan yang akan dibangun. Yang kedua dengan semakin banyaknya pembeli ikan yang masuk ke kawasan pelabuhan (Roda dua dan Roda 4)   maka  perusahaan memiliki kemampuan daya tawar yang rendah terhadap ikan yang akan dibeli dibandingkan dengan pembeli ikan lainnya, sehingga mereka agak kesulitan untuk berkompetisi. Hal ini disebabkan oleh pertimbangan finansial, misalnya perusahaan akan memikirkan biaya tenaga kerja, sewa lahan, listrik, air, dll. Pada situasi ini hubungan kemitraan nelayan – perusahaan terputus sementara.
Pada situasi tertentu saat hasil tangkapan ikan nelayan melimpah dan pasar tidak mampu menyerap semua produk yang ada, maka nelayan akan menjual ikannya diperusahaan, sebab perusahaan memiliki kapasitas daya tampung ikan yang cukup besar dengan teknologi penanganan mutu ikan yang juga cukup baik. Meskipun harga yang mereka terima belum optimal sesuai yang mereka harapkan. Belum lagi bila nelayan kesulitan memperoleh modal, maka perusaahaan yang ada selalu hadir  memberikan solusi sehingga timbul ketergantungan, pada situasi ini hubungan kemitraan kedua belah pihak terjalin kembali.
Permasalahan yang dialami oleh nelayan dan pengusaha dalam upaya membangun kemitraan berlangsung secara dilematis.  Di satu sisi perusahaan membutuhkan pasokan bahan baku ikan yang memadai agar roda kegiatan produksi terus berjalan namun disisi lain perusahaan tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk bersaing dengan pembeli lain dari luar kawasan khususnya dalam hal tawar menawar harga dengan pertimbangan tertentu. Di sisi lain nelayan yang ada di kawasan PPS Kendari juga membutuhkan perusahaan khususnya saat mereka sedang mengalami masa produksi tinggi dan produknya tidak mampu terserap oleh pasar, selain itu perusahaan dapat menjadi penyedia layanan “permodalan instan” apabila nelayan kesulitan modal untuk melaut.

          UPAYA YANG DAPAT DITEMPUH
Dari uraian permasalahan di atas dapat diketahui bahwa hubungan kemitraan nelayan dan perusahaan berlangsung panas – dingin atau tidak stabil,  untuk menjaga kestabilan hubungan kemitraan yang telah dibangun, maka ada beberapa solusi dan upaya yang bisa ditawarkan yaitu :
       1). Kemitraan yang akan dibangun harus didasarkan pada 2 bentuk kemitraan, yaitu kemitraan permanen dalam bentuk kontrak kerja sama kemitraan 1 tahun,  hubungan timbal balik yang dapat dilakukan adalah : Perusahaan dapat menjadi penyedia modal bagi nelayan, kemudian nelayan menjual ikannya hanya kepada perusahaan mitranya namun bukan sistim ijon. Nelayan akan mendapatkan kepastian pasar dan ketersediaan modal, kemudian perusahaan mendapatkan kepastian bahan baku untuk kesinambungan proses produksi.
     2).  Kemitraan temporer, kemitraan ini dapat dibangun dengan melihat kondisi pasar, nelayan mempunyai pilihan untuk menjual ikannya ke pihak lain namun pada situasi tertentu dimana produknya melimpah maka nelayan yang bersangkutan tidak memilki pilihan lain untuk menjual produknya selain ke perusahaan mitranya, mengingat ada 25 perusahaan di kawasan PPS Kendari. Bentuk hubungan timbal baliknya : perusahaan menyediakan sarana bongkar muat, es, modal, dll, nelayan memberikan kepastian produk dalam periode tertentu.
  
Kesimpulan yang dapat ditarik  adalah :
a.    Membangun kemitraan antara nelayan dan  pengusaha perikanan mutlak diperlukan untuk untuk mewujudkan sebuah hubungan mitra usaha yang dapat saling mendukung guna mempercepat program industrialisasi perikanan.
b.   Kemitraan nelayan dan pengusaha perikanan dilakukan sekaligus untuk menjaga agar perusahaan tidak kekurangan apalagi kehilangan pasokan bahan baku mengingat perusahaan – perusahaan yang ada dikawasan PPS Kendari harus terus hidup sekaligus juga untuk menghidupi ribuan tenaga kerja yang ada didalamnya. Sebaliknya nelayan tidak akan menemui banyak kesulitan untuk mencari konsumen oleh karena adanya kepastian dan resiko penurunan kualitas produk ikan akan tidak akan terjadi sehingga harganya akan tetap terjaga.
Dengan adanya sinergitas dan pola kemitraan yang baik antara nelayan dan pengusaha perikanan, maka dipastikan program industrialisasi yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan akan berjalan dengan baik.

        PENUTUP
Demikian makalah ini disusun untuk memberikan gambaran mengenai bagaimana upaya membangun kemitraan nelayan – pengusaha agar kedua belah pihak dapat menjalankan usahanya dengan penuh kepastian dan berlangsung secara kontinyu demi terlaksananya program industrialisasi perikanan.

REFERENSI : Soemardjo, 2004 dalam http://pratamasandra.wordpress.com/tag/pengertian kemitraan/
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/10/03/nctxgf-kkp-percepat industrialisasi-kelautan-dan-perikanan.