Kamis, 15 Juni 2017

Alat Tangkap Bubu

Oleh : Budi Santoso, S.St.Pi


Definisi Alat Tangkap Bubu  

Pengertian Alat Tangkap Bubu - Bubu merupakan alat tangkap yang cukup dikenal di kalangan nelayan, alat tangkap ini berupa jebakan dan bersifat pasif dan tergolong sebagai alat tangkap jenis traps (perangkap). Alat ini berbentuk seperti kurungan, sehingga ikan yang sudah masuk tidak akan bisa keluar. Bagian-bagian dari bubu sendiri terdiri dari rangka, badan, pintu masuk, pintu untuk mengambil hasil tangkapan dan kantung umpan. Prinsip dasar dari bubu yaitu menarik perhatian ikan target dengan menggunakan umpan agar target dapat masuk kedalam perangkap/bubu. Bubu ditujukan untuk menangkap kepiting, udang, keong, dan ikan dasar di perairan yang tidak begitu dalam.  


Klasifikasi Bubu Berdasarkan Cara Operasi 

  1. Bubu Dasar (stationary fish pots). Bubu dasar merupakan jenis bubu yang daerah operasionalnya berada di dasar perairan. Ukuran bubu disesuaikan dengan kebutuhan nelayan. Bubu kecil berukuran panjang 1m, lebar 50-75 cm, tinggi 25-30cm. Untuk bubu berukuran besar mencapai 3.5m, lebar 2m, dan tinggi 75-100cm. Bubu dasar biasanya dioperasikan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan. Hasil tangkapan dari bubu dasar yaitu udang, kepiting, rajungan, dan beberapa ikan dasar perairan seperti: Ikan Baronang (siganus sp), Ikan Kerapu (epinephelus sp), Ikan Kakap (lutjanus sp), dll
  2. Bubu Apung (floating fish pots). Bubu apung merupakan jenis bubu yang pengoperasiannya dalam keadaan diapungkan. Bentuk bubu apung yaitu silindris, dapat juga menyerupai kurungan atau kantong yang disebut sero gantung. Bubu apung dilengkapi dengan pelampung dari bamboo atau rakit yang penggunaannya diletakkan diatas alat tangkap ini. Dalam pengoperasiannya, bubu apung dihubungkan dengan tali yang disesuaikan dengan kedalaman perairan. Hasil tangkapan dari alat tangkap ini yaitu beberapa jenis ikan pelagis seperti: ikan julung-julung, ikan selar, ikan kembung dan masih banyak lagi.
  3. Bubu Hanyut (drifting fish pots). Bubu hanyut merupakan jenis bubu yang pengoperasiannya dalam dengan dihanyutkan. Berbentuk silindris dengan panjang 0.75m, diameter 0.5-0.5m. Hasil tangkapan bubu hanyut adalah ikan torani, dan ikan terbang (flying fish).
 Klasifikasi Bubu Berdasarkan Bentuk
  1. Bubu berbentuk kerucut terpotong
  2. Bubu berbentuk pyramid terpotong, silinder
  3. Bubu berbentuk semi silinder
  4. Bubu berbentuk kotak 
Klasifikasi Bubu Berdasarkan Sasaran Tangkapan 
  1. bubu kepiting
  2. bubu udang
  3. bubu lobster
  4. bubu ikan
  5. bubu cumi-cumi

Bubu berbentuk kubah lebih mudah pengoperasiannya bila dibandingkan dengan alat tangkap bubu yang lain. Mengapa demikian? Menurut Ir. Zarochman, MSc (2014) bubu berbentuk kubah memiliki keunggulan yaitu:
  1. Stabil waktu penurunan mencapai dasar
  2. Posisi menetap pada dasar
  3. Penarikan lebih ringan
  4. Kerangka lengkung lebih tahan lama
  5. Layak untuk perairan yang semakin dalam
  6. Mudah dibentuk dari bahan kawat
  7. Oleh karena itu, bubu kubah lebih mudah pengoperasiannya 
Umpan yang digunakan Alat Tangkap Bubu

Alat tangkap bubu merupakan alat tangkapan yang pengoperasiannya dengan menarik perhatian ikan dengan menggunakan umpan, sehingga ikan yang menjadi target dapat masuk dan terperangkap ke dalam alat tangkap ini. Nah, umpan yang digunakan pada alat tangkap bubu ini meliputi: Ikan segar atau ikan diasinkan. Contoh: ikan rucah, ikan layur, ikan layang, dll. Syarat umpan yang baik yaitu memiliki warna daging cerah/mencolok, ada bau khas, daging tahan lama, dan memiliki warna menarik. 

Cara Pengoperasian Alat Tangkap Bubu 

Langkah pengoperasian meliputi: setting (penyiapan dan pelepasan alat tangkap), immersing (perendaman alat tangkap) dan hauling (penarikan alat tangkap).
  • Setting dilakukan sekitar 1 jam, tergantung jumlah bubu. Dalam hal ini, dimulai dari pemberian umpan, kemudian perahu diberangkatkan menuju fishing ground (daerah penangkapan) sambil mengamati kondisi perairan. Kemudian dilanjutkan pemasangan alat tangkap.
  • Immersing atau lama perendaman alat tangkap bisa dilakukan hanya dalam beberapa jam, dapat juga dilakukan satu malam, atau direndam dalam tiga atau empat hari.
  • Hauling sekitar 3 jam. Pengangkatan bubu harus dilakukan secara perlahan-lahan. Hal ini bertujuan agar memberikan kesempatan ikan dalam beradaptasi terhadap perbedaan tekanan air dalam perairan.  







Fishing Ground Bubu: Ayodhyoa (1981)  

  • Arus laut tidak terlalu kuat;
  • Dasar perairan terdiri dari lumpur atau pasir, tidak terdapat benda yang dapat menyangkut pada alat tangkap saat dilakukan operasi penangkapan;
  • Dasar perairan datar atau tidak terdapat perbedaan kedalaman perairan yang mencolok.
  

Kebutuhan Modal Investasi dan Modal Kerja Perikanan Bubu  

  • Perahu: Rp. 10 Juta/unit
  • Alat tangkap (bubu): terdiri dari 350-450 bubu/unit perahu (Rp. 5 juta)
  • Mesin kapal: 16-24 PK, harga Rp. 4 juta/unit (bekas)
  • Perbekalan: Rp. 250.000/trip (umpan, BBM, makan, rokok). 

Sumber : http://togaikan.blogspot.co.id/2017 

Selasa, 13 Juni 2017

CARA MEMBUAT IKAN KERING

Oleh :
 Budi Santoso, S.St.Pi

Ikan kering merupakan produk ikan yang paling mudah pembuatannya. Jeroan dan sisik ikan dibuang, kemudian dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering. Ikan berukuran kecil bisa langsung dikeringkan. Ikan kering mempunyai aroma yang agak berbeda dengan ikan segar. Terjadinya oksidasi lemak menyebabkan ikan kering mempunyai aroma yang khasHasil gambar untuk gambar ikan kering 

BAHAN UTAMA YANG DIGUNAKAN :

- IKAN

PERALATAN YANG DIPERLUKAN :
1) Pisau. Alat ini digunakan untuk membuang sisik dan jeroan, serta untuk membelah ikan yang berukuran besar. Pisau yang digunakan hendaknya tajam, tipis dan terbuat dari logam stainless steel.
2) Sikat ikan. Alat ini digunakan untuk menyikat sisik sehingga lepas dari kulit ikan.
3) Talenan. Alat ini digunakan sebagai alas pada saat mengiris ikan.
4) Pengering. Alat ini digunakan untuk mengeringkan irisan daging. Pengering dapat berupa alat penjemur sederhana atau berupa alat pengering yang berbahan bakar (minyak, kayu bakar, atau arang) bertenaga listrik atau bertenaga cahaya matahari.
CARA PEMBUATAN :
1) Proses Pendahuluan
a. Proses pendahuluan dilakukan terhadap ikan berukuran sedang dan besar. Ikan berukuran kecil atau teri (panjang kurang dari 10 cm) tidak memerlukan proses pendahuluan. Ikan hanya perlu dicuci (jika kotor), kemudian dapat langsung dikeringkan.
b. Ikan berukuran sedang dan besar (panjang lebih dari 15 cm) perlu diberi proses pendahuluan, yaitu penyiangan, pembelahan, dan filleting.
2) Penyiangan
a. Mula-mula sisik disikat dari ekor mengarah ke kepala dengan sikat ikan tanpa melukai dagingnya. Kemudian dicuci, dan sisik yang tertinggal dibuang.
b. Bagian di bawah insang dipotong tanpa menyebabkan kepala ikan terpotong.
c. Kemudian perut ikan dibelah dari anus ke arah insang tanpa melukai jeroannya.
d. Perut yang sudah terbelah dibuka. Jeroan dan insang dibuang.
e. Bagian dalam perut disikat dengan ujung pisau untuk membuang sisa-sisa darah.
f. Setelah itu, ikan dicuci sampai bersih.
3) Pembelahan
Ikan yang dikeringkan sebaiknya dibelah agar permukaan menjadi luas sehinga waktu pengeringan lebih singkat.
a. Ikan ukuran sedang. Ikan dibelah pada bagian perut. Pembelahah dimulai dari kepala ke arah ekor tanpa menyebabkan bagian punggung terpotong.
b. Ikan ukuran besar
- Mula-mula ikan dibelah pada baian perut. Pembelahan dimulai dari bagian bawah insang ke arah ekor tanpa menyebabkan bagian punggun terbelah.
- Setelah itu ikan dibalik. Ikan dibelah pada bagian perut. Pembelahan dimulai dari kepala ke arah ekor tanpa menyebabkan bagian punggung terpotong. Dengan demikian terdapat dua belahan, dan permukaan ikan semakin luas, dan ikan semakin tipis. Hal ini memungkinkan ikan lebih cepat kering.
4) Filleting
Filleting adalah penyayatan daging rusuk secara membujur sehingga menghasilkan daging tanpa tulang. Filleting tidak selalu harus dilakukan. Proses ini hanya dilakukan jika produk ikan yang dikehendaki berupa sayatan yang bebas tulang.
a. Filleting ikan ukuran sedang
- Ikan diletakkan di atas talenan. Kepala ikan menghadap ke kanan dan perut menghadap ke arah pekerja (jika pekerja bukan kidal). Bagian bawah insang diiris melintang sampai menyentuh tulang belakang.
- Daging diiris dari arah sayatan tadi mengarah ke ekor. Mata pisau diusahakan menyentuh tulang belakang, tapi tidak sampai melukainya.
- Ikan dibalikkan, dan prosedur b di atas diulangi. Irisan yang diperoleh disebut fillet.
- Jika perlu, tulang rusuk pada fillet dapat diiris dan dibuang.
b. Filleting ikan ukuran besar
- Ikan diletakkan di atas talenan. Perut menghadap ke atas, dan kepala mengarah ke kanan. Kepala dipotong mengikuti alur tulang rahang.
- Ikan disayat dari arah kepala menuju ekor seperti gambar dibawah ini. Mata pisau harus menyentuh tulang belakang tanpa melukai tulang tersebut.
- Ikan dibalik, sehingga kepala menghadap ke kiri. Kemudian dilakukan penyayatan seperti No. b diatas. Irisan daging yang diperoleh disebut fillet.
- Jika perlu, tulang rusuk pada fillet dapat diiris dan dibuang.
5) Pengeringan
a. Pengeringan ikan ukuran kecil
Ikan ukuran kecil dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air di bawah 7%. Selama penjemuran atau pengeringan, ikan perlu dibalik-balik sehingga pengeringan lebih cepat dan merata.
b. Pengeringan ikan ukuran sedang dan besar
- Ikan yang telah dibelah, atau fillet dijemur di bawah sinar matahari, atau dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air di bawah 7%.Khusus unruk ikan atau fillet yang cukup besar, pengeringan dilakukan dengan berbagai cara:
- Bahan dijemur atau dikeringkan dalam posisi tergantung.
- Bahan dijemur atau dikeringkan dalam posisi tergeletak di atas tampah atau rak pengering.
- Bahan dijepit dengan anyaman kawat tahan karat agar diperoleh produk kering yang datarnya permukaanya.
- Penyimpanannya. Ikan atau fillet yang benar-benar kering dapat dikemas di dalam kantong plastik, kemudian si-seal dengan rapat. Daging yang kurang kering (kadar air di atas 8%) tidak dapat dikemas di dalam wadah yang tertutup rapat.
Sumber : http://nibras-satrio.blogspot.co.id/2013/07/cara-membuat-ikan-kering.html
 
 

Senin, 05 Juni 2017

Membuat Ikan Peda

Oleh : Budi Santoso, S.St.Pi

Hasil gambar untuk membuat ikan peda 

A. Bahan Baku
    - Ikan
      Kesegaran ikan sangat mempengaruhi mutu hasil akhir, maka ikan yang akan diolah menjadi peda harus segar karena ikan yang sudah busuk akan menghasilkan peda bermutu rendah dan akan membahayakan kesehatan. Pada dasarnya semua jenis ikan dapat diolah menjadi peda, akan tetapi umumnya ikan yang digunakan sebagai bahan baku peda adalah ikan kembung (Restrelliger spp). Di kenal dua jenis peda yaitu peda merah yang dibuat dari ikan kembung betina ( Restrellinger nglegtus) dan peda putih yang dibuat dari ikan kembung ikan jantan ( Restrelliger knagorta). 
   - Garam 
     Garam yang digunakan harus mempunyai kemurnian tinggi,artinya mengandung garam NaCl tinggi minimal 98%. Bila garam yang digunakan mengandung garam-garam calcium dan magnesium lebih dari 1% maka akan menghasilkan peda yang kurang baik.

B. Prinsip Fermentasi
Peda merupakan salah satu produk olahan tradisional yang dibuat dengan cara fermentasi. Fermentasi adalah proses penguraian daging ikan oleh enzim yang akan memberikan hasil yang menguntungkan. Proses fermentasi serupa dengan pembusukan, tetapi fermentasi ini menghasilkan zat-zat yang memberikan rasa dan aroma yang spesifik.

Terjadinya fermentasi memerlukan syarat-syarat sebagai berikut :
– Suasana lembab
– Adanya oksigen dalam jumlah terbatas / semi aerob dan
– Adanya garam

C. Membuat Ikan Peda
Bahan baku :
– Ikan kembung 10 kg
– Garam 2,5 kg
Alat :
– Bak /pan plastic/ember
– Pendil/peti
– Timbangan
– Rak penirisan
– Merang / daun pisang kering
– Pemberat (kayu, batu)

Cara:
  1. Cuci ikan dan timbang beratnya untuk menentukan banyaknya garam yang digunakan. Umumnya garam yang digunakan 25 – 30% dari berat ikan.
  2. Campurkan ikan dan garam, kemudian susun ikan dalam bak/pan plastik selapis demi selapis dengan diselingi garam
  3. Pada permukaan paling atas diberikan lapisan garam lebih tebal ( +1 jam),tutup dengan penutup dari pepen / tampah dan beri pemberat. Simpan di tempat yang bersih dan sejuk selama 3 – 6 hari.
  4. Bongkar ikan, kemudian cuci dengan air dan tiriskan pada rak peniris
  5. Jemur / angin-anginkan sampai ikan kelihatan kesat / padat
  6. Lumuri ikan dengan garam dan susun berlapis dalam pendil / peti yang telah dialasi merang atau daun pisang kering.
  7. Tutuplah bagian atas dengan merang / daun pisang kering dan diberi pemberat di atasnya
  8. Pada saat pengepakan harus rapat, jangan sampai oksigen masuk.
  9. Simpan di tempat yang bersih selama 10 s.d 15 hari untuk proses fermentasi sampai tercium bau peda.

Sumber : https://bisnisukm.com/pembuatan-ikan-peda.html